Senin, 27 Juni 2016

TAREKAT AS-SYADZILIYA

TAREKAT AS-SYADZILIYA

A.    PENDAHULUAN
      Sejenak kita merenung:
“Kala kemewahan materi, keglamoran hidup, kecerdasan, dan kenikmatan status social tak lagi dapat memuaskan hasrat duniawi yang tajk berujung, atau tak lagi memberikan ketenangan batin dan kesejukan kalbu, banyak orang khususnya muslim perkotaan yang berpaling kepada tasawuf, dimensi esoteris islam. Tak heran jika kemudian pengajian tasawuf yang diselenggarakan atau dikoordinasi oleh berbagai tarekat yang merupakan bentuk pelembagaan ajaran tasawuf bak oase di tengah padang tandus, menarik dan menyedot perhatian para “ pencari” yang sekaligus menyajikan telaga kenikmatan penghambaan sang khaliq.
Oleh karena itu, di dalam tarekat menyajikan telaga kenikmatan penghambaan sang khaliq untuk menemukan jati diri dalam hidup. Dari berbagai tarekat mengajarkan dimensi esitoris islam, salah satu tarekat yang muktabarah adalah tarekat Syadziliyah yang terkenal dengan variasi hizbnya.

B.     PEMBAHASAN
a.      Sejarah lahirnya

Secara sederhana penulis menggambarkan bahwa Tarekat Syadziliyah tak dapat di lepaskan hubungannya dengan pendirinya, yakni Ali bin Abdullah bin Abd. Al-Jabbar Abu  al-Hassan al-Syadziliy.[1] Dia dilahirkan di desa Ghumara, dekat Ceuta saat ini, di utara maroko pada tahun 573 H. Pada saat dinasti al-muwahhidin mencapai titik nadinya, adapun mengenai tahun kelahiran al-sadzili, sebenarnya belum ada kesepakatan. Beberapa penulis berbeda pendapat, antara lain sebagai berikut: Siradj al-Din Abu Hafshah menyebut tahun kelahirannya pada 591 H/ 1069 M, Ibn Sabbagh menyebut tahun kelahirannya pada 583 H/1187 M. Dan J, Spencer Trimingham mencatat tahun kelahirannya al-Syadzili pada 593 H/1196 M.[2]
Pendidikannya di mulai dari kedua orang tuanya, dan kemudian di lanjutkan kependidikan lebih lanjut, yang mana diantara guru kerohaniannya adalah ulam besar Abd. Al-salam Ibn Masyiy (w.628 H/1228 M), yang juga di kenal sebagai “Qutbh dari Qutbh para wali”, seperti halnya Syaikh Abd. Al-Qadir al-Jillani (w.561 H/1166 M).
As-syadzili mempunyai dua guru spritual yaitu Abu Abdillah M. Ibn Kharazim (w. 633 H/ 1236 M) dan Abd. Al-salam ibn Masiyiy. Adapum kitab-kitab tasawuf yang pernah dikaji oleh as-syadziliy di kemudian hari ia ajarkan kepada muri-muridnya, antara lain: Ihya ‘Ulumuddin karya Abu Hamid Al-Gazhali, Qut al-qulub karya Abu Tahlib al-Makki, Khtam Al-Auliya karya al-hakim al-trimidzi, al-mawaffiq wa al-mukhattabah karya Muhammad abd al-Jabbar, an-nafri, al-syifa karya Qadhli Iyadah, al-Risalah karya al-Qusyairi, dan al-muharrar al-wajiz karya Ibn At’iah.
As-sadzili di pandang sebagai seorang wali yang keramat. Diantara ceritanya bahwa pada suatu mimpi pernah bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Yang berkata kepadanya, “Hai Ali! Pergilah engkau masuk kenegeri Mesir disana engkau akan mendidik empat puluh orang Shiddiqin. “ oleh karena hari sangat panas, Al-Syadzili konon mengeluh dengan berkata, “ Ya Rasulullah! Hari sangat panas dan terik,” Nabi berkata, “ ada awan yang akan memayungi kamu! “ aku berkata pula, “aku takun akan kehausan.” Nabi menjawab, “langit kan menurunkan hujan untuk mu setiap hari.” Kemudian menjanjikanku dalam perjalanan dalam tujuh puluh keramat.[3]
Dalam bidang fiqih al-syadzili mengikuti mazhab maliki. Mazhab ini sangat dominan di daerah Maghrib (spanyol, Maroko, dan Tunisia). Al-sadzili juga di samping sebagai menjadi ulama, sufi dan “kutub agung” dalam tarekatnya, ia juga menjadi pejuang dan pembela tanah airnya. Salah satu diantara perjuangannya adalah keikutsertakaanya dalam membela tanah airnya ketika terdapat kejumudan dalam berfikir masyarakat pada waktu itu.[4]

b.      Perkembangan dan aliran-aliran/cabang-cabangnya
Sementara itu tokohnya yang terkenal pada abad ke delapan Hijriyah, Ibn Abbad ar-Rundi (w. 790 H), salah seorang pensyarah kitab al-Hikam memberikan kesimpulan dari ajaran Syadziliyah: Seluruh kegiatan dan tindakan kita haruslah berupa pikiran tentang kemurahan hati Allah kepada kita dan berpendirian bahwa kekuasaan dan kekuatan kita adalah nihil, dan mengikatkan diri kita kepada Allah dengan suatu kebutuhan yang mendalam akan-Nya, dan memohon kepada-Nya agar memberi syukur kepada kita."
Mengenai dzikir yang merupakan suatu hal yang mutlak dalam tareqat, secara umum pada pola dzikir tareqat ini biasanya bermula dengan Fatihat adz-dzikir. Para peserta duduk dalam lingkaran, atau kalau bukan, dalam dua baris yang saling berhadapan, dan syekh di pusat lingkaran atau diujung barisan. Khusus mengenai dzikir dengan al-asma al-husna dalam tareqat ini, kebijakjsanaan dari seorang pembimbing khusus mutlak diperlukan untuk mengajari dan menuntun murid. Sebab penerapan asma Allah yang keliru dianggap akan memberi akibat yang berbahaya, secara rohani dan mental, baik bagi sipemakai maupun terhadap orang-orang disekelilingnya. Beberapa contoh penggunaan Asma Allah diberikan oleh Ibn Atha'ilah berikut: "Asma al-Latif," Yang Halus harus digunakan oleh seorang sufi dalam penyendirian bila seseorang berusaha mempertahankan keadaan spiritualnya; Al-Wadud, Kekasih yang Dicintai membuat sang sufi dicintai oleh semua makhluk, dan bila dilafalkan terus menerus dalam kesendirian, maka keakraban dan cinta Ilahi akan semakin berkobar; dan Asma al-Faiq, "Yang Mengalahkan" sebaiknya jangan dipakai oleh para pemula, tetapi hanya oleh orang yang arif yang telah mencapai tingkatan yang tinggi.
Tareqat ini mempunyai pengaruh yang besar di dunia Islam. Sekarang tareqat ini terdapat di Afrika Utara, Mesir, Kenya, dan Tanzania Tengah, Sri langka, Indonesia dan beberapa tempat yang lainnya termasuk di Amerika Barat dan Amerika Utara. Di Mesir yang merupakan awal mula penyebaran tareqat ini, tareqat ini mempunyai beberapa cabang, yakitu: al-Qasimiyyah, al- madaniyyah, al-Idrisiyyah, as-Salamiyyah, al-handusiyyah, al-Qauqajiyyah, al-Faidiyyah, al-Jauhariyyah, al-Wafaiyyah, al-Azmiyyah, al-Hamidiyyah, al-Faisiyyah dan al- Hasyimiyyah.

c.          Pandangan hidup pendiri Tarekat Syadziliyah
Dalam berbagai literature, Ibn Athaillah mengemukakan bahwa al-syadzili adalah orang yang ditetapkan Allah SWT. Sebagai pewaris Nabi Muhammad SAW, Allah telah menegaskan peranan al-syadzili melalui karamah-karamahnya yang selanjutnya akan menunjukan posisinya sebagai poros spiritual (Qutbh) alam semesta.[5]


Adapun pemikiran-pemikiran Tarekat Sadziliyah tersebut adalah:
1.      Tidak mengajurkan kepada murid-muridnya untuk meninggalkan profesi dunia mereka.[6]
2.      Tidak mengbaikan dalam menjalankan syari’at islam.
3.      Zuhud tidak berarti harus menjauhi dunia karena pada dasarnya Zuhud adalah mengosongkan hati dari selain Tuhan.
4.      Tidak ada larangan bagi kaum salik untuk jadi milieuner yang kaya raya, asalkan hatinya tidak bergantung pada harta yang dimilikinya.
5.      Berusaha merespons apa yang sedang mengancam kehidupan ummat, berusaha menjembatani antara kekeringan spiritual yang dialami oleh banyak orang yang hanya sibuk dengan urusan duniawi, dengan sikap yang pasif yang banyak dialami para Salik.
6.      Tasawuf adalah latihan-latihan jiwa dalam rangka Ibadah menempatkan diri sesuai dengan ketentuan Allah SWT.
7.      Dalam kaitannya dengan al-Ma’rifat (gnosis), al-syadizli berpendapat bahwa ma’rifat adalah salah satu tujuan ahli tarekat atau tasawuf.[7]
Dari berbagai pandangan-pandangan diatas, terdapat juga kata-kata hikmah dari pendiri tarekat as-sadziliyah, diantara ucapan-ucapanya adalah:
“Pengelihatan akan yang Haqq telah mewujud atasku, dan takkan meninggalkan aku, dan lebih kuat dari apa yang dapat dipikul, sehingga aku memohon kepada Tuhan agar memasang sebuah tirai antara aku dan Dia. Kemudian sebuah suara memanggilku, katanya" Jika kau memohon kepada-Nya yang tahu bagaimana memohon kepada-Nya, maka Dia tidak akan memasang tirai antara kau dan Dia. Namun memohonlah kepada-Nya untuk membuatmu kuat memiliki-Nya."Maka akupun memohon kekuatan dari Dia pun membuatku kuat, segala puji bagi Tuhan!
Aku pesan oleh guruku (Abdus Salam ibn Masyisy ra): "Jangan anda melangkahkan kaki kecuali untuk sesuatu yang dapat mendatangkn keridhoan Allah, dan jangan duduk dimajelis kecuali yang aman dari murka Allah. Jangan bersahabat kecuali dengan orang yang membantu berbuat taat kepada Allah. Jangan memilih sahabat karib kecuali orang yang menambah keyakinanmu terhadap Allah."Seorang wali tidak akan sampai kepada Allah selama ia masih ada syahwat atau usaha ihtiar sendiri.Janganlah yang menjadi tujuan doamu itu adalah keinginan tercapainya hajat kebutuhanmu. Dengan demikian engkau hanya terhijab dari Allah. Yang harus menjadi tujuan dari doamu adalah untuk bermunajat kepada Allah yang memeliharamu dari-Nya.
Seorang arif adalah orang yang megetahui rahasia-rahasia karunia Allah di dalam berbagai macam bala' yang menimpanya sehari-hari, dan mengakui kesalahan-kesalahannya didalam lingkungan belas kasih Allah kepadanya.Sedikit amal dengan mengakui karunia Allah, lebih baik dari banyak amal dengan terus merasa kurang beramal. “Andaikan Allah membuka nur (cahaya) seorang mu'min yang berbuat dosa, niscaya ini akan memenuhi antara langit dan bumi, maka bagaimanakah kiranya menjelaskan : "Andaikan Allah membuka hakikat kewalian seorang wali, niscaya ia akan disembah, sebab ia telah mengenangkan sifat-sifat Allah SWT. _________________ BERTUHANKAN ALLAH, BERSYARIATKAN SYARIAT MUHAMMAD SAW.[8]

d.      Demografik Pengikut Tarekat Syadziliyah
Tareqat Syadziliyah terutama menarik dikalangan kelas menengah, pengusaha, pejabat, dan pengawai negeri. Mungkin karena kekhasan yang tidak begitu membebani pengikutnya dengan ritual-ritual yang memberatkan seperti yang terdapat dalam tareqat-tareqat yang lainnya. Setiap anggota tareqat ini wajib mewujudkan semangat tareqat didalam kehidupan dan lingkungannya sendiri, dan mereka tidak diperbolehkan mengemis atau mendukung kemiskinan. Oleh karenanya, ciri khas yang kemudian menonjol dari anggota tareqat ini adalah kerapian mereka dalam berpakaian. Kekhasan lainnya yang menonjol dari tareqat ini adalah "ketenagan" yang terpancar dari tulisan-tulisan para tokohnya, misalnya: asy-Syadzili, Ibn Atha'illah, Abbad. A Schimmel menyebutkan bahwa hal ini dapat dimengerti bila dilihat dari sumber yang diacu oleh para anggota tareqat ini. Kitab ar-Ri'ayah karya al-Muhasibi. Kitab ini berisi tentang telaah psikologis mendalam mengenai Islam di masa awal. Acuan lainnya adalah Qut al-Qulub karya al-Makki dan Ihya Ulumuddin karya al-Ghozali. Ciri "ketenangan" ini tentu sja tidak menarik bagi kalangan muda dan kaum penyair yang membutuhkan cara-cara yang lebih menggugah untuk berjalan di atas Jalan Yang Benar.[9]
Disamping Ar-Risalahnya Abul Qasim Al-Qusyairy serta Khatamul Auliya'nya, Hakim at-Tirmidzi. Ciri khas lain yang dimiliki oleh para pengikut tareqat ini adalah keyakinan mereka bahwa seorang Syadzilliyah pasti ditakdirkan menjadi anggota tareqat ini sudah sejak di alam Azali dan mereka percaya bahwa Wali Qutb akan senantiasa muncul menjadi pengikut tareqat ini.
Tidak berbeda dengan tradisi di Timur Tengah, Martin menyebutkan bahwa pengamalan tareqat ini di Indonesia dalam banyak kasus lebih bersifat individual, dan pengikutnya relatif jarang, kalau memang pernah, bertemu dengan yang lain. Dalam praktiknya, kebanyakan para anggotanya hanya membaca secara individual rangaian-rangkaian doa yang panjang (hizb), dan diyakini mempunyai kegunaan-kegunaan megis. Para pengamal tareqat ini mempelajari berbagai hizib, paling tidak idealnya, melalui pengajaran (talkin) yang diberikan oleh seorang guru yang berwewenang dan dapat memelihara hubungan tertentu dengan guru tersebut, walaupun sama sekali hampir tidak merasakan dirinya sebagai seorang anggota dari sebuah tareqat.
e.          Silsilah sanad
1.      As-Syaikh As-Sayyid Abil Hasan Asy-Syadzili ra
2.      As-Syaikh Abdus Salam bin Mashish ra
3.      As-Syaikh Muhammad bin Harazim ra
4.      As-Syaikh Muhammad Salih ra
5.      As-Syaikh Shuhaib Abu Madyan ra
6.      As-Syaikh As-Sayyid Abdul Qadir Al-Jailani ra
7.      As-Syaikh Abu Said Al-Mubarak ra
8.      As-Syaikh Abul Hasan Al-Hukkari ra
9.      As-Syaikh At-Tartusi ra
10.  As-Syaikh Asy-Shibli ra
11.  As-Syaikh Sari As-Saqati ra
12.  As-Syaikh Ma’ruf Al-Kharkhi ra
13.  As-Syaikh Daud At-Tai ra
14.  As-Syaikh Habib Al-Ajami ra
15.  Imam Hasan Al-Basri ra
16.  Sayyidina Ali bin Abu Thalib ra
17.  Sayyidina Muhammad SAW.[10]

f.          Ajaran Hizib (doa dan zikir) Tarekat Syadziliyah
Adapun Hizib- Hizib tersebut antara lain adalah:
1.      Hizib al-syfa’
Hizib al-syfa’ adalah Hizib yang khas dari tarekat asdziliyah. Adapun cara mengamalkan adalah apabila disertai puasa maka Hizib al-syfa’ di baca setiap salat fardhu dan puasa dilaksanakan selama tiga hari, tujuh hari, sepuluh hari, atau empat puluh hari. Caranya pertama-tama membaca surat al-fatihah  yang di tunjukan kepada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Abu Bakar al-Shidiq, Sayyidina Umar Ibn al-Khathab, Sayyidina Usman bin affan, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Syaikh  Abd al-Qadir al-jilani, Mbah Panjalu, Sunan Kalijaga, Syaikh Ibn Ulwan, Wali Sembilan di Indonesia, Sulthan Agung, Syaikh Abd al-Qadir al-kediri, Syaikh Mustaqim bin Syaikh Abdul al-jilaini bin Mustaqim, kedua orang tua dan Nabi Khidir a.s
2.      Hizib al-Mubarak
Sebelum membaca Hizib al-Mubarak ini terlebih dahulu membaca aurah al-fatihah seperti biasanya dan ditambah kepada sayyidin hamzah.
3.      Hizib al-Hujb
4.      Hizib al-Salamah
Sebelumnya di dahului pembacaan surah al-fatihah yang ditunjukan kepada Adam, Ibu Hawa, semua Nabi dan Rasul, Syuhada, Salihin auliya al-arifin, ulama amilin, malaikat al-muqarrabin, kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat.[11]
5.      Hizib Bahr
Para ahli mengatakan bahwa hizib, bukanlah doa yang sederhana, ia secara kebaktian tidak begitu mendalam; ia lebih merupakan mantera megis yang Nama-nama Allah Yang Agung (Ism Allah A'zhim) dan, apabila dilantunkan secara benar, akan mengalirkan berkan dan menjamin respon supra natural. Menyangkut pemakaian hizib, wirid, dana doa, para syekh tareqat biasnya tidak keberatan bila doa-doa, hizib-hizib (Azhab), dan wirid-wirid dalam tareqat dipelajari oleh setiap muslim untuk tujuan personalnya. Akan tetapi mereka tidak menyetujui murid-murid mereka mengamalkannya tanpa wewenang, sebab murid tersebut sedang mengikuti suaru pelatihan dari sang guru.Yang menarik dari filosufi Tasawuf Asy-Syadzily, justru kandungan makna hakiki dari Hizib-hizib itu, memberikan tekanan simbolik akan ajaran utama dari Tasawuf atau Tharekat Syadziliyah. Jadi tidak sekadar doa belaka, melainkan juga mengandung doktrin sufistik yang sangat dahsyat.

C.    PENUTUP
Dari pelbagai uraian di atas secara sederhana penulis menyimpulkan bahwa pendiri tarekat as-sadziliyah adalah Ali bin Abdullah bin Abd. Al-Jabbar Abu  al-Hassan al-Syadziliy. Dan terekat ini pula terkenal dengan Hizib-hizibnya sesuai di sebutkan diatas. Dan perlu diketahui bahwa Hizib ini bukanlah doa yang sederhana, ia secara kebaktian tidak begitu mendalam; ia lebih merupakan mantera megis yang Nama-nama Allah Yang Agung (Ism Allah A'zhim) dan, apabila dilantunkan secara benar, akan mengalirkan berkan dan menjamin respon supra natural.
Kemudian Yang menarik dari filosufi Tasawuf Asy-Syadzily, justru kandungan makna hakiki dari Hizib-hizib itu, memberikan tekanan simbolik akan ajaran utama dari Tasawuf atau Tharekat Syadziliyah. Jadi tidak sekadar doa belaka, melainkan juga mengandung doktrin sufistik yang sangat dahsyat.
Akhirnya, penulis berharap mudah-mudahan karya ilmiah ini berfanfaat khususnya bagi perbendaharaan penulis sendiri dan umumnya bagi pembaca sekalian. jikalau terdapat kekeliruan dalam penulisan ini baik dari segi penulisan, isi ataupun yang lainnya, berikanlah kritik yang positif bagi penulis supaya sebagai bahan koreksi bagi penulis sendiri. Kurang dan lebihnya penulis ucapkan terimakasih.

DAFTAR PUSTAKA
Mulyati, Sri et.al Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2005), Cet ke-II, hlm. 57

Mansur HM, Laili, Ajaran dan Teladan Para Sufi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996),     hlm. 227
Renard, Jhon, Surat-surat Sang Sufi, terj. M.S Nasrullah dari Ibn Abbad of Ronda:letters of the sufi path, (Bandung: Mizan,1993), hlm. 60
www.sufi news.com




[1] Silsilah keturunannya mempunyai hubungan dengan orang-orang garis keturunan Hasan Ali bin Abi Thalib, dan dengan denikian berarti juga ketuirunan Siti Fatimah, anak perempuan Nabi Muhammad SAW. Al-Syadzili sendiri pernah menuliskan silsialh keturunnannya sebagai berikut: Ali bin Abdullah bin Abd. Jabber bin yusuf bin ward bin Batthal bin ahmad bin Muhammad bin Isa bin Muhammad bin Hassan bin Ali bin Abi Thalib. Lihat Sri Mulyati et.al Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2005), Cet ke-II, hlm. 57
[2] Sri Mulyati et.al Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia,hlm. 58
[3] Laili mansur HM, Ajaran dan Teladan Para Sufi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996),     hlm. 227
[4]www.wikpedia.com
[5] Jhon Renard, Surat-surat Sang Sufi, terj. M.S Nasrullah dari Ibn Abbad of Ronda:letters of the sufi path, (Bandung: Mizan,1993), hlm. 60
[6] Laili mansur HM, Ajaran dan Teladan Para Sufi,hlm. 204
[7] Sri Mulyati et.al Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia,hlm. 75
[8] www.sufi news.com
[9] www.sufi news.com
[10] www.sufi news.com
[11] Sri Mulyati et.al Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia,hlm. 82-85
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © MAHSUN DOT NET