Sabtu, 24 Februari 2018

MACAM-MACAM DAN TUJUAN REWARD

      Macam-macam Reward (Ganjaran)
Reward (ganjaran) adalah penilaian yang bersifat positif terhadap belajarnya murid. Reward (ganjaran) yang diberikan kepada siswa bentuknya bermacam-macam, secara garis besar reward (ganjaran) dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu:
a)      Pujian
Pujian adalah satu bentuk reward (ganjaran) yang paling mudah dilakukan. Pujian dapat berupa kata-kata seperti: baik, bagus, bagus sekali dan sebagainya, tetapi dapat juga berupa kata-kata yang bersifat sugesti. Misalnya: “Nah, lain kali akan lebih baik lagi.” “Kiranya kau sekarang telah lebih rajin belajar” dan sebagainya. Disamping yang berupa kata-kata, pujian dapat pula berupa isyarat-isyarat atau pertandapertanda. Misalnya dengan menunjukkan ibu jari (jempol), dengan menepuk bahu anak, dengan tepuk tangan dan sebagainya.
b)      Penghormatan
Reward (ganjaran) yang berupa penghormatan ini dapat berbentuk dua macam pula.
Pertama berbentuk semacam penobatan. Yaitu anak yang mendapat penghormatan diumumkan dan ditampilkan dihadapan teman-temannya. Dapat juga dihadapan teman-temannya sekelas, teman-teman sekolah, atau mungkin juga dihadapan para teman dan orang tua murid. Misalnya saja pada malam perpisahan yang diadakan pada akhir tahun, kemudian ditampilkan murid-murid yang telah berhasil menjadi bintang-bintang kelas. Penobatan dan penampilan bintang-bintang pelajar untuk suatu kota atau daerah, biasanya dilakukan di muka umum. Misalnya pada rangkaian upacara hari proklamasi kemerdekaan.
Kedua, penghormatan yang berbentuk pemberian kekuasaan untuk melakukan        sesuatu. Misalnya, kepada anak yang berhasil menyelesaikan suatu soal yang     sulit, disuruh mengerjakannya di papan tulis untuk dicontoh teman-temannya.
c)      Hadiah
Yang dimaksud dengan hadiah di sini ialah reward (ganjaran) yang berbentuk pemberian yang berupa barang. Reward (ganjaran) yang berupa pemberian barang ini disebut juga reward (ganjaran) materiil, yaitu hadiah yang berupa barang ini dapat terdiri dari alat-alat keperluan sekolah, seperti pensil, penggaris, buku dan lain sebagianya.
d)     Tanda Penghargaan
Jika hadiah adalah reward (ganjaran) yang berupa barang, maka tanda penghargaan adalah kebalikannya. Tanida penghargaan tidak dinilai dari segi harga dan kegunaan barang-barang tersebut, seperti halnya pada hadiah. Melainkan, tanda pengahargaan dinilai dari segi “kesan” atau “nilai kenang”nya. Oleh karena itu reward (ganjaran) atau tanda penghargaan ini disebut juga reward (ganjaran) simbolis. Reward (ganjaran) simbolis ini dapat berupa surat-surat tanda jasa, sertifikatsertifikat.[1]
Dari keempat macam reward (ganjaran) tersebut di atas, dalam penerapannya seorang guru dapat memilih bentuk macam-macam reward (ganjaran) yang cocok dengan siswa dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi, baik situasi dan kondisi siswa atau situasi dan kondisi keuangan, bila hal itu menyangkut masalah keuangan. Dalam memberikan reward (ganjaran) seorang guru hendaknya dapat mengetahui siapa yang berhak mendapatkan reward (ganjaran), seorang guru harus selalu ingat akan maksud reward (ganjaran) dari pemberian reward (ganjaran) itu. Seorang siswa yang pada suatu ketika menunjukkan hasil lebih baik dari pada biasanya, mungkin sangat baik diberi reward (ganjaran). Dalam hal ini seorang guru hendaklah bijaksana, jangan sampai reward (ganjaran) menimbulkan iri hati pada siswa yang lain yang merasa dirinya lebih pandai, tetapi tidak mendapat reward (ganjaran). Kalau kita perhatikan apa yang telah diuraikan tentang maksud reward (ganjaran), serta macam-macam reward (ganjaran) yang baik diberikan kepada siswa, ternyata bukanlah soal yang mudah. Ada beberapa syarat yang harus diperhatikan oleh seorang guru sebelum memberikan reward (ganjaran) pada siswa yaitu:
a)      untuk memberi reward (ganjaran) yang pedagogis perlu sekali guru mengenal betul-betul siswanya dan tahu menghargai dengan tepat. Reward (ganjaran) dan penghargaan yang salah dan tidak tepat dapat membawa akibat yang tidak diinginkan.
b)      Reward (ganjaran) yang diberikan kepada seorang siswa janganlah hendaknya menimbulkan rasa cemburu atau iri hati bagi siswa lain yang merasa pekerjaannya juga lebih baik, tetapi tidak mendapat reward (ganjaran).
c)      Memberi reward (ganjaran) hendaklah hemat. Terlalu kerap atau terus-menerus memberi reward (ganjaran) dan penghargaan akan menjadi hilang arti reward (ganjaran) itu sebagai alat pendidikan.
d)     Janganlah memberi reward (ganjaran) dengan menjanjikan lebih dahulu sebelum siswa menunjukkan prestasi kerjanya apalagi bagi reward (ganjaran) yang diberikan kepada seluruh kelas. Reward (ganjaran) yang telah dijanjikan lebih dahulu hanyalah akan membuat siswa terburu-buru dalam bekerja dan akan membawa kesukarankesukaran bagi beberapa siswa yang kurang pandai.
e)      Pendidik harus berhati-hati memberikan reward (ganjaran), jangan sampai reward (ganjaran) yang diberikan pada siswa diterima sebagai upah dari jerih payah yang telah dilakukannya.[2]
Ada beberapa pendapat para ahli pendidikan terhadap reward (ganjaran) sebagai alat pendidikan berbeda-beda. Sebagian menyetujui dan menganggap penting reward (ganjaran) itu dipakai sebagai alat untuk membentuk kata hati siswa. Sebaliknya ada pula ahli-ahli pendidikan yang tidak suka sama sekali menggunakan reward (ganjaran). Mereka berpendapat bahwa reward (ganjaran) itu dapat menimbulkan persaingan yang tidak sehat pada siswa. Menurut pendapat mereka, seorang guru hendaklah mendidik siswa supaya mengerjakan dan berbuat yang baik dengan tidak mengharapkan pujian atau reward  (ganjaran), tetapi semata-mata karena pekerjaan atau perbuatan itu memang kewajibannya.
Sedangkan pendapat yang terakhir adalah terletak diantara keduanya, sebagai seorang pendidik hendaknya menginsafi bahwa yang dididik adalah siswa yang masih lemah kemauannya dan belum mempunyai kata hati seperti orang dewasa. Dari mereka belumlah dapat dituntut supaya mereka mengerjakan yang baik dan meninggalkan yang buruk atas kemauan dan keinsafannya sendiri. Perasaan kewajiban mereka masih belum sempurna, bahkan pada siswa yang masih kecil boleh dikatakan belum ada. Untuk itu, maka pujian dan reward (ganjaran) sangat diperlukan pula dan berguna bagi pembentukan kata hati dan kemauan.[3]
Setelah mengetahui beberapa pendapat para ahli pendidikan di atas dapatlah disimpulkan, reward (ganjaran) juga sangat penting tapi ada juga dampak negatifnya, untuk itu seorang guru harus memberitahu kepada siswa bahwa berbuat baik bukan karena mengaharap suatu pujian atau reward (ganjaran), maka seorang guru harus selalu ingat akan syarat-syarat reward (ganjaran) seperti yang diuraikan di atas. Reward (ganjaran) adalah alat yang mendidik, maka dari itu reward (ganjaran) tidak boleh berubah sifatnya menjadi upah. Upah adalah sesuatu yang mempunyai nilai sebagai ganti rugi dari suatu pekerjaan atau suatu jasa. Upah adalah sebagai pembayar suatu tenaga, pikiran, atau pekerjaan yang telah dilakukan seseorang. Sedangkan reward (ganjaran) sebagai alat pendidikan tidaklah demikian, untuk itu seorang guru harus selalu ingat maksud dari pemberian reward (ganjaran) itu.[4]
Tujuan Reward (Ganjaran)
Mengenai masalah reward (ganjaran), perlu peneliti bahas tentang tujuan yang harus dicapai dalam pemberian reward (ganjaran). Hal ini dimaksudkan, agar dalam berbuat sesuatu bukan karena perbuatan semata-mata, namun ada sesuatu yang harus dicapai dengan perbuatannya, karena dengan adanya tujuan akan memberi arah dalam melangkah.  Tujuan yang harus dicapai dalam pemberian reward (ganjaran) adalah untuk lebih mengembangkan motivasi yang bersifat intrinsik dari motivasi ektrinsik, dalam artian siswa melakukan suatu perbuatan, maka perbuatan itu timbul dari kesadaran siswa itu sendiri. Dan dengan reward (ganjaran) itu, juga diharapkan dapat membangun suatu hubungan yang positif antara guru dan siswa, karena reward (ganjaran) itu adalah bagian dari pada penjelmaan dari rasa cinta kasih sayang seorang guru kepada siswa. Jadi, maksud dari reward (ganjaran) itu yang terpenting bukanlah hasil yang dicapai seorang siswa, tetapi dengan hasil yang dicapai siswa, guru bertujuan membentuk kata hati dan kemauan yang lebih baik dan lebih keras pada siswa. Seperti halnya telah disinggung di atas, bahwa reward (ganjaran) disamping merupakan alat pendidikan represif yang menyenangkan, reward (ganjaran) juga dapat menjadi pendorong atau motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baik lagi.


                [1] Amir Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu…. h. 159-161
                [2] M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan… h. 184
                [3] M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan… h. 184 -185
                [4] M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan… h. 182
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © MAHSUN DOT NET