Rabu, 31 Agustus 2016

PENDIDIKAN AKHLAQ PADA SISWA

PENDIDIKAN AKHLAQ PADA SISWA
Siswa mempunyai akhlak yang mulia, akan tetapi sekarang kebanyakan siswa-siswi yang  tidak mempunyai akhlak mulia lagi, Allah SWT yang Maha Mengetahui siapa diri kita yang sebenarnya, menolong kita agar dapat mengetahui kekurangan yang harus diperbaiki, memberitahu jalan yang harus ditempuh, dan memberikan karunia semangat terus-menerus sehingga kita tidak dikalahkan oleh kemalasan, tidak dikalahkan oleh kebosanan, dan tidak dikalahkan oleh hawa nafsu dan mudah-mudahan pula warisan terbaik diri kita yang dapat diwariskan kepada keluarga, keturunan, dan lingkungan adalah keindahan akhlak kita. Karena ternyata keislaman seseorang tidak diukur oleh luasnya ilmu. Keimanan seseorang tidak diukur oleh hebatnya pembicaraan. Kedudukan seseorang disisi Allah tidak juga diukur oleh kekuatan ibadahnya semata. Tapi semua kemuliaan seorang yang paling benar Islamnya, yang paling baik imannya, yang paling dicintai oleh Allah, yang paling tinggi taqwanya kepada Allah dan yang akan menemani Rasulullah SAW ternyata sangat khas, yaitu orang yang paling mulia akhlaknya.Walhasil sehebat apapun pengetahuan dan amal kita, sebanyak apapun harta kita, setinggi apapun kedudukan kita, jikalau akhlaknya rusak maka tidak bermoral. Kadang kita terpesona kepada topeng duniawi tapi segera sesudah tahu akhlaknya buruk, pesona pun akan pudar

a.       Pengertin Akhlaq, Moral, Etika.
Perkataan “Akhlaq” berasal dari bahasa Arab, jama’ dari dari khuluqun”               (  خُلُقٌ ) yang menurut lugat diartikan: budi pekerti, perangai, tingkah laku, tabiat. Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan  “Khalqun”    ( خَلْقٌ ) yang berarti: kejadian, serta ert hubungannya dengan “khaliq” ( خَالِقٌ  ) yng berarti: Pencipta, dan “makhluq” ( مَخْلُوْقٌ ) yang berarti: yang diciptakan. Perumusan pengertian “akhlaq” timbul sebagai media yang memungkinkan adanya hubungan baik antara Khaliq dengan makhluk dan antara makhluk dengan makhluq.[1]
Perkataan ini bersumber dri kalimat yang tercantum dalam al-Quran:
y7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OŠÏàtã ÇÍÈ  

Artinya:
“Sesungguhnya engkau (ya... Muhammad) mempunyai budi pekerti yang luhur”.(Q.S 68 al-Qalam: 4).
Demikian juga dari hadits Nabi saw:
بُعِثْتُ لِاُ تَمِِّمَ مَكَارِمَ الْاَخْلَاقِ (رواه  احمد )
Artinya:
“Aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan budi pekerti”  (H.R.  Ahmad)
Menurut Kamus Bahasa Indonesia akhlaq adalah: budi pekerti atau tabiat (kelakuan)[2] yang baik maupun yang buruk sesuai dengan tabiat atau wataknya sedangkan pengertian akhlak menurut Istilah atau definisi yang dikemukakan oleh para ulama adalah sebagai berikut:
Menurut Imam Ghozali: akhlak itu ialah suatu istilah tentang bentuk batin yang tertanam dalam jiwa seseorang yang mendorong ia berbuat (bertingkah laku), bukan karena suatu pemikiran dan bukan pula karena suatu pertimbangan.[3] Zakiah Daradjat menjelaskan  bahwa umumnya para ulama akhlak sependapat dengan apa yang dikemukakan oleh Imam Ghazali walaupun dengan redaksi berbeda.
Sebagaimana yang dijelaskan pula dalam Ensiklopedi Islam Istilah “akhlaq” dimaknai dengan  suatu keadaan yang melekat pada jiwa, yang dari padanya lahir dengan mudah perbuatan-perbuatan, tanpa melalui proses pemikiran, pertimbangan atau penelitain.[4]
Komponen utama dalam agama Islam: akidah, syari’ah, dan akhlaq. Pengolongan tersebut didasarkan pada penjelasan Nabi Muhammad kepada malaikat Jibril di depan para sahabatnya mengenai Iman, Islam dan Ihsan, yang ditanyakan jibril kepada beliau. Perkataan ihsan (tersebut diatas)  berasal dari kata ahsana – yuhsinu – ihsanun yang bearti berbuat kebaikan atau berbuat baik.  Di dalam al-Quran terdapat kata ihsan yang artinya berbuat kebajikan atau berbuat baik. Firman Allah yang menjelaskan hal tersebut terdapat dalam: [5]
Q.S: An-Nahl: 90

 ¨bÎ) ©!$# ããBù'tƒ ÉAôyèø9$$Î/ Ç`»|¡ômM}$#ur Ç!$tGƒÎ)ur ÏŒ 4n1öà)ø9$# 4sS÷Ztƒur Ç`tã Ïä!$t±ósxÿø9$# ̍x6YßJø9$#ur ÄÓøöt7ø9$#ur 4 öNä3ÝàÏètƒ öNà6¯=yès9 šcr㍩.xs? ÇÒÉÈ 
Artinya:
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
Baik kebaikan maupun kebajikan erat hubungannya dengan akhlak, demikian pendapat yang di kemukakan oleh  Muhammad Daud Ali. Menurut  kepustakaan yang beliau temukan akhlak yakni keadaan yang melekat pada jiwa manusia yang melahirkan perbuatan (perilaku dan tingkah laku), mungkin baik mungkin buruk. [6]  Selain itu beliau juga mengemukakan akhlak Islami adalah keadaan yang melekat pada jiwa manusia. Akhlak adalah sikap yang melahirkan perbuatan dan tingkah laku manusia. Sehingga ruang lingkup akhlak dalam Islam  pun meliputi semua aktifitas manusia dalam segala bidang.         
  Pengertian akhlaq sebagaimana yang terdapat dalam  kamus Bahasa Indonesia, sering pula diganti dengan kata moral atau etika supaya lebih terkesan moderen atau mendunia. Hal tersebut sah-sah saja dilakukan asalkan kita memahami betul dan mengetahui perbedaan kata-kata dimaksud.
Perkataan moral bersal dari bahasa Latin more, jamak kata mos yang berarti adat kebiasaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tersebut diatas, moral berarti ajaran tentang baik-buruk yang diterima umum mengenai perbuatan sikap, kewajiban budi pekerti, akhlak.  Moral adalah Istilah yang difigurkan untuk menentukan batas-batas suatu sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang layak dikatakan benar, salah, baik, buruk. Dimasukannya penilaian benar atau salah ke dalam moral, jelas menunjukan salah satu perbedaan moral dengan akhlak, sebab salah benar dipandang dari sudut hukum yang di dalam agama Islam tidak dapat pisahkan dengan akhlak, seperti telah disinggung diatas. Dalam Ensiklopedi Pendidikan (1976)  Sugarda Poerbakawatja menyebutkan, sesuai dengan makna aslinya dalam bahasa latin (mos), adat istiadat menjadi dasar untuk menentukan apakah perbuatan seseorang baik atu buruk. [7]
Pengarang Abu A’la Maududi mengemukakan adanya moral Islam dalam bukunya: Eptical Viewpoint Of Islam  dan memberikan garis tegas antara moral sekuler dan moral Islam. moral sekuler bersumber dari pikiran dan prasangka manusia yang beraneka ragam. Sedangkan moral Islam bersandar pada bimbingan petunjuk. [8]
Sedangkan “etika” lazim dipergunakan untuk istilah “akhlaq”.  Perkataan ini berasal dri bahasa Yunani “ethos” yang berarti: adat kebiasaan. Dalam pelajaran filsafat, etik merupakan bagian daripadanya. Sebagai cabang dari filsafat, maka etika bertitik tolak dari akal fikiran, tidak dari agama. Disinilah letak perbedaannya dengan akhlaq dalam pandangan Islam. dalam pandangan Islam, ilmu akhlaq ialah suatu ilmu pengethuan yang mengajarkan mana yang baik dan mana yang buruk berdasarkan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ajaran Etik Islam sesuai dengan fitrah dan akal pikiran yang lurus.[9]
Jika  Prof. Muhamad Daud Ali mengaitkan kebajikan maupun kebaikan dengan akhlak, maka Prof. Dr .H. Jalalludin mengaitkan akhlaq dengan kepribadian Muslim. Menurutnya kepribadian dalam konteks ini dapat diartikan sebagai identitas yang dimiliki seseorang sebagi ciri khas dari keseluruhan tingkah laku sebagi muslim, baik yang ditampilkan dalam tingkahl aku lahiriah maupun bathinnya. Tingkah laku lahiriah seperti cara berkata-kata, berjalan, makan, minum, berhadapan dengan teman, orang tua, guru, teman sejawat, sanak famili dan lain-lainnya. Sedangkan sikap batin seperti sabar, tekun, disiplin, jujur, amanat, ihklas, toleran, dan berbagai sikap terpuji lainnya sebagai cermin dari akhlaq al-karimah. Semua sikap dan sifat itu timbul dari dorongan batin. Kemudian ciri khas dari tingkah laku tersebut dapat dipertahankan sebagai kebiasaan yang menyatu dalam dirinya. Dengan demikian sikap dan sifat tersebut sudah menjadi jati dirinya, sehingga tidak mungkin dapat dipengaruhi sikap dan tingkah laku orang lain yang bertentangan dengan apa yang ia miliki.[10]
b.        Pembentukan Akhlak
Berbicara tentang pembentukan akhlak sama halnya dengan berbicara tentang tujuan pendidikan Islam, karena banyak sekali kita jumpai pendapat para ahli yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan dalah pembentukan akhlak.
Pembentukan akhlak dapat diartikan sebagai usah sungguh-sungguh dalam rangka membentuk anak, dengan menggunkan sarana pendidikan pembinaan yang terprogram dengan baik dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan konsisten. Pembentukan akhlak ini dilakukan berdasarkan asumsi bahwa akhlak adalah hasil usaha pembinaan, bukan terjadi dengan sendirinya.[11]
Mengenai Pembentukan akhlak maka erat hubungannya dengan kepribadian muslim. Sebagaimana  yang telah dijelaskan di muka bahwa kepribadian secara umum disebut sebagai personality, jika dihubungkan dengan tingkah laku seseorang baik secara lahiriah maupun batihiniah. Sedangkan kepribadian muslim dalam konteks ini sebagi mana yang di terangkan oleh   Jalaludin; dapat diartikan sebagai identitas yang dimiliki seseorang sebagai ciri khas dari keseluruhan tingkah laku secara lahiriah maupun sikap batinnya.[12] oleh sebab itu sasaran yang dituju dalam pembentukan kepribadian ini adalah kepribadian yang memiliki akhlak yang mulia. Diriwayatkan dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلَ اللهِ ص.م: اَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ ِاِيْمَانًا اَحْسَنُهُمْ خُلُقًا (رواه مسلم)
Artinya: “orang mukmin yang paling sempurna akhlaqnya, adalah orang mukmin yang paling baik akhlaknya. (HR. Muslim).[13]
Pembentukan akhlak yang mulia ternyata memiliki proses yang panjang. Tidak sekali jadi. Selain dilakukan upaya melalui aktifitas pendidikan secara formal, juga perlu dilakukan upaya, upaya di luar itu. Salah satu diantaranya adalah melalui proses pendidikan diri sendiri yang di bebankan pada setiap pribadi muslim.
Upaya-upaya tersebut bahkan sudah dapat dimulai sebelum terjadinya kosepsi reproduksi, hingga tahap tahap perikutnya. Beberapa upaya yang dianjurkan tersebut adalah: [14]
1)      Kiat pendidikan pribadi pra-nikah, yaitu memilih jodoh yang sejalan dengan tuntutan ajaran agama Islam. karena keluarga merupakan lingkungan awal yang dikenal oleh setiap bayi,  maka pembentuknnya pun harus memenuhi persyaratan yang sejalan dengan tuntutan ajaran itu.
2)      Kemudian pada tahap selanjutnya, sejalan dengan tahap perkembangan usianya, pedoman mengenai pendidikan anak juga telah digariskan oleh filsafat pendidikan Islam. Kalimat  tauhid diperdengankan ketelainga bayi yang beru lahir (dengan mengumandangkan suara adszan dan Iqomat. Yang bertujuan agar fungsi telinga pendengaran yang ia rasa kan pertama kali adalah memperdengarkan kalimat tauhid sebagai awal kehidupannya di dunia.
3)      Selanjutnya usia tujuh tahun anak-anak dibiasakan mengerjakan sholat, dan perintah itu mulai diintensifkan menjelang usia sepuluh tahun (hadits). Pendidikan akhlak dalam hal- hal baik dan terpuji sudah mulai sejak usia dini. Pendidikan pada usia didik akan lebih melekat tertanam pada diri anak.

Untuk mempermudah dalam memahami pembentukan akhlaq disini, maka penulis hendak membatasinya sesuai dengan objek penelitian yang hendak penulis lakukan pada usia remaja di sekolah menengah pertama (SMP). Oleh sebab itu berikut ini penulis cantumkan pula beberapa hal merupakan karakteristik nilai, moral, dan sikap remaja.
Ada beberpa karakteristik  yang perlu diketahui dari nilai, moral dan sikap remaja disini sebagai peserta didik. Muhmmad Ali dan Muhmmad Asrori menjelaskan dalam bukunya “Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik” dengan mengutip langsung beberapa pandangan dari para tokoh, diantaranya:[15]
                                     a. Salah satu karakteristik remaja yang sangat menonjol  berkitan dengan nilai adalah bahwa remaja sudah sangat merasakan pentingnya tata nilai dan mengembangkan nilai-nilai baru yang sangat diperlukan sebagai pedoman, pegangan, atau petunjuk dalam mencari jalannya sendiri untuk menumbuhkan identitas diri menuju kepribadian yang semakin matang.
                                    b. Karakteristik yang menonjol dalam perkembangan moral remaja adalah bahwa sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif yang mulai mencapai tahap berfikir operasional formal, yaitu mulai mampu berfikir abstrak dan mampu memecahkan masalah-masalah yang bersifat hipotesis maka pemikitn remaja terhadap suatu permasalahan tidak lagi hanya terikat waktu, tempat, situasi, tetapi juga pada sumber moral yang menjadi dasar hidup mereka.
                                    c. Perkembangan pemikiran moral remaja dicirikan dengan mulai tumbuh kesadaran akan kewajiban mempertahankan kekuasaan dan pranata yang ada karena dianggapnya sebagai sesuatu yang bernilai, walaupun belum mampu mempertanggung jawabkannya secaar pribadi.
                                   d. Tingkat perkembangaan fisik dan psikis yang dicapai remaja berpengaruh pada perubahan sikap dan perilakunya. Perubahan sikap yang cukup mencolok dan ditempatkan sebagai salah satu karakter remaja adalah sikap menentang nilai-nilai dasar hidup orang tua dan orang dewasa lainnya.

Berdasarkan perdapat tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa remaja sudah mampu merasakan suatu nilai dan moral sebagai pedoman dalam membetuk sikap dan kepribadiannya.  Moral dalam pendangan remaja memiliki nilai yang penting meskipun dia sendiri belum mampu pempertanggung jawabkannya secara pribadi karena sikap yang dimilikinya yang bersifat membangkang atau menentang.
                        Dalam membentuk sikap remaja, tentu perlu adanya upaya pembinaan dan latihan yang dilakukan secara kontiunitas yang dapat diberikan tidak hanya berupa teori (pemahaman) saja namun lebih kepada penerapan langsung ke arah kehidupan praktis. Upaya pelaksanaan pembentukan tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara berikuti ini:
  1. Pembiasaan
Berkenaan dengan ini Imam al-Ghazali mengatakan bahwaa kepribadian manusia itu pada dasarnya dapat menerima segala usahapembentukan melalui pembiasaan. Jika manusia membiasakan berbuat jahat, maka ia akan menjadi jahat. Untuk itu Al-Gazali menganjurkan agar akhlak diajarkan, yaitu dengan cara melatih jiwa kepada pekerjaan  atau tingkah laku yang mulia. [16]
  1. Pengajaran
Jika tahap pertama merupakan upaya praktis agar siswa dapat berbuat secara tepet, maka pada tahap kedua ini di samping kebiasaan berakhlak tetap dilanjutkan dengan penanaman pengertian melalui pengajaran, hal ini bertujuan agar siswa tidak hanya berpedoman” asal berbuat” tetapi siswa diusahakan tahu mengapa ia berbuat. Penanaman pendidikan di sini mempertamukan pengertian (teoritis) dengan latihan atau pembiasaan (praktis).
  1.  Keteladanan
Pembinaan atau pembentukan akhlak dengan pengajaran saja tidak cukup. Menanamkan sopan santun perlu memerlukan pendidikan yang panjang dan harus ada pendekatan yang lestari. Pendidikan itu tidak akan sukses, melainkan jika disertai dengan pemberian contoh teladan yang baik dan nyata.[17]
  1. Pendekatan dari segi faktor sasaran yang akan dibina
Pembinaan akhlak secara efektif dapat pula dilakukan dengan memperhatikan faktor kejiwaan sasaran yang akan dibina. Menurut hasil penelitian para psikolog bahwa kejiwaan menusia berbeda-beda menurut pebedaan tingkat usia. Oleh sebab itu hendaknya dalam membentuk akhlak remaja harus mempertimbangkan keadaan psikis mereka yang cenderung labil dan dalam masa transisi dari anak-anak (SD) menuju fase remaja.

c.       Faktor-Faktor Penting Dalam Pembentukan Akhlaq.
Faktor  penting dalam penentuan baik dan buruk tingkah laku seseorang.  Faktor-faktor tersebut “mencetak” dan mempengaruhi tingkah laku manusia dalam pergaulannya yang meliputi:[18]
1)  Manusia, manusia selaku  makhluq yang istimewa dengn kelinan-kelainannya dibandingkan dengan makhluq-makhluk lainnya, memiliki kelebihan-kelebihandan juga kekurangan-kekurangan terntu. Disamping itu karena manusia selaku pelaku akhlak yang memiliki kelebihan akal untuk berfikir  dibandingkan makhluk ciptaan Allah lainnya.
2)      Instinct (naluri), naluri merupakan tabiat yang dibawa manusia sejak lahir, jadi merupaka suatu pembawaan asli.  Pandangan lain tentang “naluri” ialah sifat yang dapat menimbulkan perbuatan yang menyampaikan pada tujuan dengan terpikir lebih dahulu ke arah tujuan itu tanpa didahului latihan perbutan itu.
3)    Kebiasaan, adalah perbuatan yang selalu diulang-ulang  sehingga menjadi mudah  dikerjaan.
4)    Keturunan, ada beberapa sifat-sifat yang biasa di turunkan, pada garis besarnya ada dua: a) sifat jasmaniah, yakni kekuatan dan kelemahan otot dan urat syarf orang tua dapat diturunkan kepada anak; b) sifat-sifat ruhaniah : yakni lemah atau kuatnya suatu naluri diturunkan pula oleh orang tua yang kelak mempengaruhi tingkah laku anak cucunya.
5)    Lingkungan, dalam hubungan ini lingkungan di bagi menjadi dua bagian : 1) lingkungan alam yang bersifat kebendaan; 2)lingkungan pergulan yang bersifat rohniah.
6)    Kehendak, salah satu kekuatan yang berlindung di balik tingkah laku manusia adalah kemauan keras (‘azam). Itulah yang menggerakkan manusia berbuat dengan besungguh-sungguh.
7)    suara hati (dhamir), fungsi dari suara batin itu adalah memperingatkan bahayanya perbuatan buruk dan berusaha mencegahnya.
8)    Pendidikan, yang dimaksud dengan pendidikan disini ialah segala tuntunan dan pengajaran yang diterima seorang dalam membina kepribadian. Pendidikan itu mempunyai pengaruh yang besar dalam akhlaq, sehingga ahli-ahli etika berpandangan bahwa pendidikan adalah faktor yang turut menentukan dalam etika disamping faktor-faktor yang sebelumnya telah diterangkan.
Dari beberapa faktor yang dapat mempengaruhi akhlak maka dapat kita klasifikasikan menjadi 2 jenis: pertama, faktor intrinsik yaitu hal-hal yang mempengaruhi  pembentukan akhlak yang berasal dari dalam diri manusia itu sendiri; kedua, ekstrinsik, yaitu faktor yang memperngaruhi pembentukan akhlak yang datang dari luar inidividu tersebut seperti lingkungan dan pendidikan.
Maka yang penting kaitannya dengan penelitian ini adalah faktor pendidikan berperan bagi pembentukan akhlak seseorang. Karena dengan pendidikan yang baik seseorang mempergunakan akalnya dengan baik dan dengan akal sehat seseorang mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk.




[1] Hamzah Ya’qub, Etika Islam Pembinn akhlaqul karimah ( suatu pengantar), (Bandung: Diponegoro, 1983), Cet ke-II, h.11-12.
[2] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta; Balai Pustaka, 1990), h. 15. 
[3] Zakiyah Daradjat, dkk, Metodik Khusus Pengeajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), h. 68.
[4] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam,  Ensiklopedi Islam, ( Jakarta: Ichtiar Baru  Van Hoeve, 1997), h. 102.
[5] Departemen Agama RI, al-Quran dan Terjemahannya (Al- Jumatul Ali), CV. Penerbit J-ART, 2004. hal. 278.
[6]  Muhammad Daud Ali,  Pendidikan Agama Islam,  (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002) Cet ke-5, h.346.   
[7] Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, ..., h. 353.
[8]  Hamzah Ya’qub, Etika Islam Pembinaan akhlaqul karimah ( suatu pengantar), (Bandung: Diponegoro, 1983), Cet ke-II, h. 14.
[9]  Hamzah Ya’qub,  Etika Islam Pembinaan akhlaqul karimah ( suatu pengantar),..., h. 12-13.
[10]  Jalaludin, Teologi Pendidikan, (Jakarta; Raja Grafindo Persada, 2001), Cet ke-I, h. 174-175.
[11]  Abudin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), h.4.
[12]  Jalaludin, Teologi Pendidikan, (Jakarta; Raja Grafindo Persada, 2001), Cet ke-I,  h. 174.
[13] Imam Jalaludin Abd. Rahman bin Abu Bakar As-suyuti, Al-Jami As-Shagir,(Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), Juz I, h. 89.
[14]  Jalaludin, Teologi Pendidikan, ..., h. 181-182.
[15] Muhammad Ali dan Muhammad Asrori, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005), h.145-146.
[16] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada), h. 164.
[17] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf,..., h. 165.
[18] Hamzah Ya’qub, Etika Islam Pembinn akhlaqul karimah ( suatu pengantar), (Bandung: Diponegoro, 1983), Cet ke-II, h. 55-56. 
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © MAHSUN DOT NET