Rabu, 31 Agustus 2016

MACAM-MACAM METODE KETELADANAN

MACAM-MACAM METODE KETELADANAN

Macam-macam Metode Keteladanan
1.      Keteladanan Secara Verbal
a. Komunikasi disengaja (terencana)
Komunkasi disengaja (terencana) adalah komunikasi yang direncanakan untuk proses pendidikan agar tercapai tujuan pendidikan. Contohnya adalah ketika seorang guru ingin memberikan materi pelajaran, maka sebelumnya ia harus merencanakan terlebih dahulu apa saja yang akan disampaikan di dalam kelas, sehingga dibuatlah RPP (Rencana Praktek Pembelajaran).
b. Komunikasi Spontan
Komunkasi spontan adalah komunikasi yang diterapkan dalam keseharian  yang dapat mencerminkan sikap dan prilaku seseorang. Contohnya adalah tutur kata orang tua ketika memberikan perintah kepada anak dengan mengucapkan kalimat ”tolong” terlebih dahulu sebelum menunjukkan perintah.
2.      Kerteladanan Secara non Verbal
 Keteladanan secara non verbal adalah dengan isyarat, sikap atau prilaku yang dapat memberikan keterangan yang dipahami oleh orang lain secara umum. Contohnya Seperti orang tua yang sedang memberitahu suatu tempat kepada anaknya tanpa mengucapkan kata-kata, namun mengarahkan jari telunjuknya ketempat yang dituju[1].
Dari beberapa uraian yang telah dibahas, penulis mengambil suatu kesimpulan tentang macam-macam bentuk keteladanan. Bentuk keteladanan itu terbagi dua, yaitu keteladanan dalam bentuk perkataan/ucapan dan keteladan dalam bentuk perbuatan.
Pertama, keteladanan dalam bentuk perkataan/ucapan adalah hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh seseorang dari orang lain, kemudian akan dipraktekkannya sesuai dengan apa yang didengarnya.
Kedua, keteladanan dalam bentuk perbuatan adalah hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh seseorang dari orang lain, dalam bentuk perbuatan, kemudian dipraktekkan sesuai dengan apa yang diihatnya.
Menurut beberapa pendapat mengatakan bahwa keteladanan itu lebih dominan dengan perbuatan daripada dengan ucapan. Sejak lama orang percaya dan memang terlihat dalam kehidupan nyata bahwa pendidikan dengan memberikan keteladanan adalah salah satu bentuk pendidikan terpenting, apalagi di masa kanak-kanak. Yakinlah bahwa anak-anak akan lebih terpengaruh oleh apa yang kita lakukan, bukan oleh apa yang kita katakan. Menurut Nurcholis Madjid: “peran orang tua adalah peran tingkah laku, tauladan-tauladan dan pola-pola hubungan dengan anak yang dijiwai dan disemangati oleh nilai-niai keagamaan”[2].
Disinilah terbukti benarnya pepatah: “bahasa perbuatan adalah lebih fasih dari bahasa ucapan.” (Lisanul-hali-afshahu-min lisanil-maqal)[3]. Jadi bahwa pendidikan agama menuntut tindakan percontohan lebih banyak dari pada pengajaran verbal. Dapat dikatakan pula bahwa “pendidikan dengan perbuatan” (tarbiyah bi lisan-i 'I hal) untuk anak lebih efektif dan lebih mantap dari pada “pendidikan dengan dengan bahasa ucapan” (tarbiyah bi lisan-i ‘i-maqal). Karena itu yang penting adalah penghayatan kehidupan keagamaan dalam suasana rumah tangga.
Menurut penulis sebaiknya dalam teladan haruslah seimbang antara ucapan dengan perbuatan, karena apabila terjadi kontradiksi antara ucapan dengan perbuatan, maka Allah SWT. Sangat membencinya kita dapat temukan bahwa al-Quran menolak keras perilaku orang-orang yang perbuatan berlainan dengan ucapannya; termasuk didalamnya adalah para ibu, bapak dan semua orang yang mengemban amanat pendidikan firman Allah SWT.:
ياأيها الذين أمنوالم تقولون مالا تفعلون (2) كبر مقتا عند الله أن تقولوا ما لا تفعلون(3)

”orang –orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan”. (QS. Ash-Shaf. 2-3)

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa pendidikan agama dalam keluarga “diterapkan dengan keteladanan dan hal ini paling meyakinkan keberhasilan dalam membentuk dan mempersiapkan moral, spiritual dan sosial anak”[4]. Sebab, Anak-anak akan meniru perilaku orang dewasa yang mereka amati, jika mereka mendapatkan kedua orang tuanya jujur, maka mereka akan tumbuh menjadi orang jujur. Keteladanan dalam pendidikan adalah merupakan metode aspek moal, spiritual dan etos sosial anak. Hal ini karena pendidik adalah figur terbaik dalam pandangan anak, yang tindak-tanduk dan sopan santunnya disadari atau tidak akan ditiru anak.
Masalah keteladanan menjadi faktor penting dalam menentukan baik buruknya anak, jika pendidik jujur, dapat dipercaya, berakhlak mulia, berani dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan agama. Begitu pula sebaliknya jika pendidik pembohong, khianat, kikir, penakut dan hina, maka si anak anak tumbuh dalam kebohongan, khianat, durhaka, kikir, penakut dan hina. Si anak, bagaimana pun besarnya usaha yang dipersiapkan untuk kebaikannya, bagaimana pun sucinya fitrah, tidak akan mampu memenuhi prinsip-prinsip kebaikan dan pokok-pokok pendidikan utama, selama ia tidak melihat sang pendidik sebagai teladan dari nilai-nilai moral yang tinggi.keteladanan yang baik memiliki pengaruh yang cukup besar pada diri seorang anak. Anak akan selalu meniru tabi’at tuanya hingga orang tuanyalah yang akan  pertama kali mencetak anak menjadi apa saja yang diajarkan orang tuanya melalui perilaku diri merka sendiri. Setiap orang tua dituntut untuk memberikan keteladanan yang baik tatkala seorang anak mulai tumbuh, maka ia akan merekam seluruh tingkah laku orang tua dan senantiasa akan bertanya-tanya tentang sebab suatu peristiwa. Maka apabila jawaban orang tua baik maka akan baik pula untuk si anak. Orang tua sebagai figure teladan bagi anak-anaknya hendaklah menjaga sikap dan perilakunya, sebab apa yang mereka lakukan akan menjadi cermin bagi anaknya.


DAFTAR PUSTAKA
ü  Yudi Munadi, Media Pembelajaran, (Jakarta, Gaung Persada Press, 2008), Cet. I, h. 9
ü  Nurcholis Madjid, Masyarakat Religius: Membumikan Nilai-nilai Islam dalam Kehidupan Masyarakat, (Jakarta: Paramadina, 2000), Cet. II, h. 81.
ü  Dudung Abd. Rahman, 350 Mutiara Hikmah & Syair Arab (Bandung : Media Qalbu), Cet. I,  h.75.
ü  Abdullah Nasih Ulwan, Pedoman Pendidikan Anak Dalam Islam, (CV. Asy-Syifa, 1981), Cet. III, h. 2.




[1] Yudi Munadi, Media Pembelajaran, (Jakarta, Gaung Persada Press, 2008), Cet. I, h. 9
[2] Nurcholis Madjid, Masyarakat Religius: Membumikan Nilai-nilai Islam dalam Kehidupan Masyarakat, (Jakarta: Paramadina, 2000), Cet. II, h. 81.
[3] Dudung Abd. Rahman, 350 Mutiara Hikmah & Syair Arab (Bandung : Media Qalbu), Cet. I,  h.75.
[4] Abdullah Nasih Ulwan, Pedoman Pendidikan Anak Dalam Islam, (CV. Asy-Syifa, 1981), Cet. III, h. 2.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © MAHSUN DOT NET