Rabu, 31 Agustus 2016

KONSEP BELAJAR; Pengertian, Teori, dan Jenis-Jenis Belajar

KONSEP BELAJAR; Pengertian, Teori, dan Jenis-Jenis Belajar
1.      Belajar
a.      Pegertian Belajar
Belajar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Belajar tidak hanya melibatkan penguasaan suatu kemampuan  atau masalah akademik baru, tetapi juga perkembangan emosi, interaksi sosial, dan perkembangan kepribadian. “Belajar adalah berusaha (berlatih dsb.) supaya mendapat kepandaian”[1]. Belajar itu bukan hanya menghafal dan mengingat, melainkan berinteraksi dengan lingkungannya. Dari sini, belajar berarti suatu proses yang ditandai dengan perubahan pada diri seseorang, dengan ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti bertambah pengetahuannya, bertambah daya penerimaannya dan aspek-aspek lain yang ada pada individu.
“Kata belajar dalam pengertian kata “mempelajari” berarti memperoleh pengetahuan melalui pengalaman dan mempersiapkan secara langsung dengan indera. Adapun kata belajar dalam pengertian kata “mengetahui” adalah untuk memiliki pemahaman praktis melalui pengalaman dengan suatu hal[2].”
     “Perlu diketahui dalam pemakaian istilah belajar sekurang-kurangnya ada dua hal besar yang dapat membedakannya, yaitu dalam pemakaian pertama: merujuk pada perubahan prilaku, sedangkan pemakaian istilah kedua: merujuk pada bagaimana macam keadaan internal yang diperkirakan mejadi dasar dari proses prilaku”[3].
Belajar selalau berkaitan dengan perubahan-perubahan pada diri orang yang belajar. Perubahan ini bisa berupa pengetahuan, sikap atau afeksi, maupun keterampilan. Unsur lain yang terkait dengan belajar adalah pengalaman yang merupakan hasil dari interaksi individu dengan lingkungannya.
     Kedua unsur tersebut hampir selalau ditekankan dalam rumusan atau definisi tentang belajar. Ngalim Purwanto dalam buku Psikologi Pendidikan mengemukakan pendapat beberapa tokoh pendidikan mengenai pengertian belajar. Sebagai berikut:
a.       Morgan dalam bukunya Introduction to Psychology (1978)  mengemukakan belajar adalah perubahan yang relative menetap (menyatu dalam pribadi individu) dalam tingah laku yang terjadi sebagai hasil dari latihan atau pengalaman.
b.      Witherington dalam bukunya Educatoin Psychology mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri  sebagai suatu pola baru dari reaksi berupa kecakapan, sikap, kepandaian, kebiasaan, atau suatu pengertian[4].

     Dari kedua pengertian tersebut diatas penulis dapat menyimpulkan:
a.       Belajar merupakan suatu proses untuk memperoleh perubahan tingkah laku
b.      Dalam belajar terjadi perubahan tingkah laku yang menetap dan menyatu dalam diri individu
c.       Hasil perubahan belajar itu karena disengaja.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, secara umum belajar dapat dipahami bahwa belajar merupakan tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Sebenarnya keberagaman dalam mendefinisikan makna belajar baik secara eksplisit maupun implisit, pada akhirnya memiliki kesamaan makna. “Salah satu definisi yang nyaris disepakati para psikolog adalah bahwa belajar merupakan sebuah proses perubahan prilaku atau pribadi berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu”[5].
Untuk mengetahui bahwa seseorang telah menjalani proses belajar dan telah mengalami perubahan-perubahan, baik perubahan dalam memiliki pengetahuan, penguasaan materi, sikap dan keterampilan, maka dapat dilihat dari hasil belajar atau prestasi belajar sebagai salah satu pengukurannya.

b.      Beberapa Teori Belajar
Ngalim Purwanto mengemukakan 3 (tiga) teori belajar yang merupakan hasil penyelidikan para ahli psikolog, yaitu: teori Conditioning, teori Connectionism, dan teori menurut psikologi Gestal.
  1. Teori Conditioning
Teori Conditioning ini dipelopori oleh Ivan Pavlov (1849-1936), seorang fisiologi berkebangsaan Rusia. Menurut teori ini,  belajar adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat (conditionis) yang kemudian menimbulkan reaksi (response). Untuk menjadikan seorang itu belajar haruslah kita berikan syarat-syarat tertentu. Yang terpenting menurut teori conditionig  ialah adanya latihan-latihan yang kontinu. Yang diutamakan dalam teori ini ialah hal belajar yang terjadi secara otomatis.
Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia juga tidak lain adalah hasil daripada conditioning. Yakni hasil daripada latihan-latihan  atau kebiasaan-kebiasaan mereaksi terhadap syarat-syarat atau perangsang-perangsang tertentu yang dialaminya didalam kehidupannya.
Kelemahan dari teori ini ialah, teori ini menganggap bahwa belajar itu hanyalah terjadi secara otomatis; keaktifan dan penentuan pribadi tidak dihiraukan. Peranan latihan/kebiasaan terlalu ditonjolkan[6].
  1. Teori Connectionism (Thorndike)
Edward Thorndike (1874-1949) adalah salah seorang psikolog kebangsaan Amerika. Ia merupakan orang pertama yang melakukan eksperiment belajar dengan hewan. Menurut Thorndike belajar itu melalui 2 (dua) proses:
a.       Trial and eror (mencoba dan mengalami kegagalan), dan
b.      Law of effect,  yang berarti bahwa segala tingkah laku yang berakibatkan suatu keadaan yang memuaskan (cocok dengan tuntunan situasi) akan diingat dan dipelajari dengan sebaik-baiknya.
Sedangkan segala sesuatu yang berakibatkan tidak menyenangkan akan dihilangkan atau dilupakannya. Tingkah laku ini terjadi secara otomatis. Otomatis dalam belajar itu dapat dilihat dengan syarat-syarat tertentu, pada binatang juga pada manusia[7].
Thorndike membuat suatu prinsip tentang belajar yaitu: belajar akan terjadi jika respon mengandung efek tertentu terhadap lingkungan. Jika efek respon menyenangkan, maka belajar terjadi. Jika efek respon tidak menyenangkan maka prilaku belajar semakin melemah. Hukum efek menyebutkan bahwa belajar terdiri dari penguatan hubungan antara satu situasi stimulus dan respon. Hubungan ini akan diperkuat jika respon mengandung efek yang menghasilkan kepuasan atau akan diperlemah jika respon mengandung efek yang tidak menyenangkan[8].
Kelemahan dari teori ini ialah:
  1. Terlalu memandang manusia sebagai mekanisme dan otomatisme belaka disamakan dengan hewan. Meskipun banyak tingkah laku manusia yang otomatis, tetapi tidak selalu bahwa tingkah laku manusia itu dapat dipengaruhi secara trial and eror. Trial and eror tidak berlaku mutlak bagi manusia
  2. Memandang belajar hanya merupakan asosiasi belaka antara stimulus dan respon. Sehingga yang yang dipentingkan dalam belajar ialah memperkuat asosiasi tersebut dengan latihan-latihan, atau ulangan-ulangan yang terus menerus.
  3. Karena belajar berlangsung secara mekanis, maka “pengertian” tidak dipandang sesuatu yang pokok dalam belajar. Mereka mengabaikan “pengertian” sebagai unsur yang pokok dalam belajar[9].

3.      Teori menurut Psikologi Gestal
Teori ini sering kali disebut field theory atau insting full learning. Menurut para ahli psikologi Gestal, manusia itu bukanlah sekedar makhluk reaksi yang hanya berbuat atau beraksi jika ada perangsang yang mempengaruhinya. Manusia itu adalah individu yang merupakan kebulatan jasmani-rohani. Sebagai individu manusia berinteraksi dengan dunia luar dengan kepribadiannya dan dengan cara yang unik pula.
Dengan demikian maka belajar menurut psikologi Gestal bukan hanya sekedar merupakan proses asosiasi antara stimulus-respon yang makin lama makin kuat karena adanya latihan-latihan atau ulangan-ulangan. Belajar menurut psikologi Gestal terjadi jika ada pengertian (insting). Pengertian atau insting ini muncul apabila seseorang setelah beberapa saat mencoba memahami suatu masalah, tiba-tiba muncul adanya kejelasan, terlihat olehnya hubungan adanya unsur-unsur yang satu dengan yang lain, kemudian dipahami sangkut pautnya; dimengerti maknanya.
Dengan singkat belajar menurut psikologi Gestal dapat diterapkan sebagai berikut:
Pertama, dalam belajar faktor pemahaman atau pengertian (insting) merupakan faktor penting. Dengan belajar dapat memahami/mengerti hubungan antara pengetahuan dengan pengalaman.
Kedua, dalam belajar, pribadi atau organisme memegang peranan yang paling sentral. Belajar tidak hanya dilakukan secara reaktif-mekanistis belaka, tetapi dilakukan dengan sadar, bermotif dan bertujuan[10].

c.       Jenis-Jenias Belajar
Ada beberapa jenis kegiatan yang terdapat dalam proses belajar. Kegiatan ini memiliki corak yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, baik dalam aspek materi dan metodenya maupun aspek tujuan dan perubahan tingkah laku yang diharapkan. Keanekaragaman jenis belajar ini muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan manusia yang juga bermacam-macam.
Fadilah Suralaga dkk. dalam buku Psikologi Pendidikan Dalam Perspektif Islam membedakan jenis belajar menjadi 8, diantaranya:
  1. Belajar Abstrak
Jenis belajar ini merupakan kegiatan yang menggunakan cara berfikir abstrak, yang bertujuan untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Untuk mempelajari hal-hal yang abstrak ini diperlukan prinsip, konsep dan generalisasi seperti belajar matematika, kimia, tauhid dan sebagainya.
  1. Belajar Keterampilan
Jenis belajar yang satu ini menggunakan gerakan-gerakan motorik yakni berhubungan urat-urat saraf dan neuromuscular dengan tujuan untuk memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu. Untuk memperoleh hasil yang maksimal, maka belajar keterampilan membutuhkan latihan-latihan yang intensif dan teratur.
  1. Belajar Sosial
Pada dasarnya belajar sosial ini belajar untuk memahami masalah-masalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-msalah lain yang bersifat kemasyarakatan
  1. Belajar Pemecahan Masalah
Belajar pemecahan masalah merupakan belajar yang menggunakan metode-metode ilmiah atau berfikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya adalah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas, dan tuntas.
  1. Belajar Rasional
Belajar rasional adalah belajar dengan menggunakan kemampuan berfikir secara logis dan rasional (sesuai dengan akal sehat). Tujuannya adalah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep.


  1. Belajar Kebiasaan
Belajar kebiasaan adalah proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Belajar kebiasaan, selain menggunakan perintah, suritauladan, dan pengalaman khusus, juga menggunakan hukuman dan ganjaran.
  1. Belajar Apresiasi
Belajar aspirasi adalah mempertimbangkan (judgement) arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective skill) yang dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, dan sebagainya.
  1. Belajar Pengetahuan
Belajar pengetahuan (Knowledge) ialah belajar dengan cara melakukan penyelidikan mendalam terhadap objek pengetahuan tertentulis[11].











DAFTAR PUSTAKA
Akyas Azhari, Psikologi Umum Dan Perkembangan, (Jakarta: Teraju PT. Mizan Publik, 2004), Cet. I.
Fadilah Suralaga, Dkk., Psikologi Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (UIN Jkt. Press, 2005), Cet. I.
Netty Hartati, Dkk.  Islam Dan…, h. 57.
Netty Hartati, Dkk. Islam Dan Psikologi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), Cet. I
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung, PT. Remaja Rosda Karya, 1995)
Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamu Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta, Balai Pustaka, 1984), Cet. I




[1] Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamu Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta, Balai Pustaka, 1984), Cet. I, h. 108.
[2] Netty Hartati, Dkk. Islam Dan Psikologi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), Cet. I, h. 55.
[3] Netty Hartati, Dkk.  Islam Dan…, h. 57.
[4] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung, PT. Remaja Rosda Karya, 1995), h. 84.
[5] Akyas Azhari, Psikologi Umum Dan Perkembangan, (Jakarta: Teraju PT. Mizan Publik, 2004), Cet. I, h. 122.
[6] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan…, h. 91.
[7] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan…, h. 99.
[8] Netty Hartati, Dkk.  Islam Dan…, h. 58-59.
[9] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan…, h. 100.
[10] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan…, h. 101.
[11] Fadilah Suralaga, Dkk., Psikologi Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (UIN Jkt. Press, 2005), Cet. I, h. 81-83.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © MAHSUN DOT NET