Sabtu, 25 Juni 2016

PONDOK PESANTREN DAN KELEMBAGAAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM MASYARAKAT

PONDOK PESANTREN DAN KELEMBAGAAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM MASYARAKAT
A.    Sejarah dan Perkembangan Pondok Pesantren
Dari sejarah kita ketahui bahwa dengan kehadiran kerajaan Bani Umayah menjadikan Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga anak-anak masyarakat Islam tidak hanya belajar di Masjid tetapi juga pada lembaga-lembaga yang lain sepertiu ”Kuttab” Kutab ini dengan karaakteristiknya yang khas merupakan wahana dan lembaga pendidikan Islam yang semula sebagai lembaga baca dan tulis dengan sistim halaqoh (sistem wetonan).
Di Indonesia, Istilah Kuttab lebih dikenal dengan istilah ”Pondok Pesantren” yaitu lembaga pendidikan Islam yang didalamnya terdapat seorang kiai (Pendidik) yang mengajar dan mendidik para santri dengan sarana masjid yang digunakan untuk menyelenggarakan pendidikan tersebut, serta didukung adanya pondok pesantren sebagi tempat tinggal para santri. Dengan demikian, ciri-ciri pondok pesantren adalah adanya kiai, santri, masjid, dan pondok.[1]
Pesantren sendiri menurut pengertian dasarnya adalah ”Tempat belajar para santri” sedangkan pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana yang terbuat dari bambu. Disamping itu, kata ”pondok” mungkin juga berasal dari bahasa Arab”Funduq” yang berarti”Hotel atau Asrama”.
Dengan dibentuknya pondok pesantren tidak hanya karena merupakan kebutuhan dari masyarakat Islam sendiri melainkan karena mempunyai tujuan-tujuan yang hendak dicapai, diantaranya adalah adanya tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum adalah mendidik anak didik menjadi manusia yang berkepribadian Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya. Sedangkan tujuan khususnya adalah mempersiapkan apra santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kiai yang bersangkutan serta mengamalkannya dalam masyarakat.
Pesantren di Indonesia tumbuh dan berkembang sangat pesat. Berdasarkan laporan pemerintah kolonial Belanda pada Abad ke 19 untuk di jawa saja terdapat tidak kurang dari 1.853 buah, dengan njumlah santri tidak kurang dari 16.500 orang. Dari jumlah tersebut belum tersmasuk pesantren-pesantren yang berkembang di luar Jawa terutam Sumatera dan Kalimantan yang suasana keagamaannya terkenal sangat kuat.[2]

B.     Bentuk dan Sistem pembelajaran di Pondok pesantren
Sejarah perkembangan pondok pesantren memiliki model-model pengajaran yang bersifat non-klasikal, yaitu model sistem pendidikan dengan menggunakan metode pengajaran sorogan dan wetonan atau bendungan (menurut istilah Jawa Barat).
Dengan sistem piondok pesantren tumbuh dan berkembang dimana-mana yang yang ternyata mempunyai peranan yang sangat penting dalam usaha mempertahankan ekstensi umat Islam dari serangan dan penindasan fisik dan mental kaum penjajah beberapa abad lamanya.
Dalam mekanisme kerjanya, sistem yang ditampilakan pondok pesantren mempunyai keunikan dibandingkan dengan sistem yang diterapkan dalam pendidikan pada umunya, yaitu :
a.       Memakai sistem tradisional yang mempunyai kebebasan penuh dibandingkan dengan sekolah modern, sehingga terjadi hubungan dua arah antara santri dan kiai.
b.      Kehidupan di pesantren menampakkan semangat demokrasi karena mereka praktis bekerja sama mengatasi problema nonkulikuler mereka.
c.       Para santri tidak mengidap penyakit yang simbolis, yitu perolehan gelar dan ijazah, karena sebagian besar pesantren tidak tidak mengeluarkan ijzah, sedangkan santri dengan senang hati masuk pesantren tanpa adamnya ijazah.
d.      Sistem pondok pesantren mengutamakan kesederhanaan, idealisme persaudaraan, persamaan, rasa percaya diri, dan keberanian hidup.
Perkembangan berikutnya, disamping tetap mempertahankan ketradisionalnya, pesantren juga mengembangkan dan mengelola sisitem pendidikan madrasah. Begitu pula, untuk mencapai tujuan bahwa nantinya para santri mampu hidup ,mandiri kebnayakan sekarang ini pesantren juga memasukkan pelajaran keterampilan dan pengetahuan umum.
C.    Potensi dan karakteristik Pendidikan Pesantren
Mengenai kata pesantren telah terjadi perbedaan pendapat di kalngan santri yang mendapat awalan ”pe’ dan akhiran ”an” ,yang berrti tempat tinggal para santri, sedangkan istilah santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti gury mengaji. Menurut Robson, kata Santri berasal dari bahsa Tamil”Sattiri” yang diartikan sebagian orang yang tinggal di rumah miskin atau bangunan keagamaan secara umum.
Menurut Manfred, p;esantren berasal dari masa sebelum masa Islam serta mempunyai kesamaan dengan Budha dalam bentuk asrama. Pendapat lain menyatakan bahwa pondok pesantren adalah pranata pendidikan asli Islam, pesantren lahir dari pola kehidupan tasawuf yang berkembang di beberapa wilayah Islam seperti Timur tengah dan afrika utara, yang dikenal dengan sebutan Zawiyat.[3]

D.    Pola Pembinaan Pesantren
Pembaharuan pesantren bisa diupayakan melalui dua pola, yaitu pola vertikal dan pola horizontal, secara vertikal pesantren selayaknya berusaha untuk semakin menembangkan, fungsinya sebagai lembaga keagamaan yang meberikan pembinaan secara lebih khusus terhadap moralitas dan spiritual para santri. Bidang ini merupakan muatan ”pragmatis” yaitu perhatian terhadap hubungan dengan masalah-masalah kebutuhan moral dan spiritual masyarakat modern yang dihadapkan pada masalah-masalah kontemporer. [4]
Pola pengembangan lain yang dilakukan pesantren adalah pembaharuan yang brersifah horizontal. Pembaharuan ini meliputi sistem pendidikan dan sisitem manajemen pesantren.
a.      Sistem Pendidikan
Pembaharuan ini meliputi jenis, jenjang, dan sumber daya pendidikan. Pembaharuan jenis pendidikan adalah dengan memasukkan jenis pendiidkan lain di samping pendidikan agama seperti : Pendidikan akademik dan atau pendidikan kejuruan (Keterampilan). Sedangkan pembaharuan pendidikan kejuruan adalah untuk menciptakan relevansi antara dunia pendidikan pesantren dengan kebutuhan masyarakat.
b.      Sistem Manajemen
Menurut Prof. H.A.R Tilaar, dalam Manajemen Pendidikan Nasional, ada tiga faktor dalam sistem manajemen yaitu manajemen sebagai faktor upaya organisasi sebagai faktor sarana, dan administrasi sebagai faktor karsa. Ketiga faktor ini, sebagaimana pendapat Tilaar, dapat memberikan arah dan perpaduan dalam merumuskan, mengendalikan npelaksanaan, mengawasi serta menilai pelaksanaan, mengendalikan pelaksanaan, dan lain-lain.
Sebagai upaya para pengelola pesantren untuk senantiasa eksis dan menampung dinamika masyarakat khususnya umat Islam maka langkah yang diambil adalah menentukan arah pembaharuan itu sendiri. Dalam menentuka arah pembaharuan di dunia pesantren  terdapat paling tidak tiga paradigma yang digunakan, yaitu :
a)      Pengelola yang akomodatif dengan pembaharuan
b)      Pengelola yang menolak sama sekali perubhan apapun, dan
c)      Pengelola yang pernah ke hati-hatian denagn sangat selekyif menerima pembahruan.

E.     Berbagai Jenis Kelembagaan pendidikan Islam di Masyarakat
Lembaga-lembaga Pendidikan Islam menurut Hirarki dalam aspek historis maupun perkembangan pola dan sisitem yang digunakan terdapat beberapa lembaga pendidikan Islam, diantaranya :
  1. Masjid (Surau, laggar, mushalla, dan munasah)
  2. Madrasah dan pondok pesantren
  3. Kursus-kursus keislaman
  4. Badan-badan pembinaan rohani
  5. Musabaqoh Tilawatil Qur’an
Berdasarkan beberapa wujud atau bentuk lembaga pendidikan islam tersebut, tampaknya sangat berperan dalam penyelenggaraan pendidikan Islam di Indonesia.

1)      Masjid
Masjid memegang peranan penting dalam penyelenggraan pendidikan Islam, karena itu masjid atau surau merupakan sarana yang pokok dan mutlak keperluannya bagi perkembangan masyarakat islam.

2)                              Madarasah
Lahirnya Madrasah-madrasah di dunia Islam, pada dasarnya merupakan usaha pengembangan dan penyempurnaan zawiyah-zawiayah tersebut dalam rangka menampung dan perkembangan ilmu pengetahuan dan jumlah pelajar yang semakin meningkat.

3)      Perguruan Tinggi Agama Islam
Umat Islam yang merupakan mayoritas dari penduduk indonesia selalu mencari berbagai cara untuk membangun sisitem pendidikan Islam yang lengkap, mulai dari pesantren yang sederhana sampai ketingkat perguruan tinggi.





[1]. Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Lintasan sejarah pertumbuhan dan perkembangan, Hal.24.
[2]. Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Lintasan sejarah pertumbuhan dan perkembangan, Hal.138-139.
[3]. M.Ali Hasan & Mukti Ali, Kapita Selekta Pendidikan Islam,(Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya,2003) hal.93. 
[4].  M.Ali Hasan & Mukti Ali, Kapita Selekta Pendidikan Islam. Hal.104.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © MAHSUN DOT NET